1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

(Muh. Arham, CGP Angkatan 10)



"Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat." Ki Hadjar Dewantara

Pendidikan yang menuntun kodrat anak
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Dalam modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak, kita diajak untuk melakukan refleksi kritis terhadap pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Perumpamaan Ki Hadjar Dewantara yang sangat penting untuk dihayati adalah memperlakukan murid seperti biji tanaman yang disemai oleh petani. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal. Namun, yang perlu diperhatikan sepanjang proses menuntun murid itu adalah guru sebagai pak tani tetap mendidik murid sesuai dengan kodratnya. Jagung yang dirawat diperlakukan seperti jagung dan tidak mengharapkan ia berubah menjadi padi atau tanaman lainnya. 

Dalam tulisannya, Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan tentang convergentie-theorie.
Teori ini mengajarkan bahwa anak yang dilahirkan itu diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh, tetapi semua tulisan-tulisan itu suram. Lebih lanjut menurut aliran ini, pendidikan itu berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik, agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan makin suram.

Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.
Seyogianya pendidikan yang diselenggerakan di sekolah menginternalisasi nilai-nilai sosial-kultural yang ada pada wilayah setempat untuk mendekatkan diri anak pada keluhuran budaya lokalnya. Sekolah mesti menjalankan fungsi sosialisasinya dalam memperkenalkan kearifan lokal kepada murid agar warisan luhur budaya nusantara tetap terjaga dan lebih dicintai dari generasi ke generasi. Itulah pentingnya pembelajaran yang kontekstual diimplementasikan oleh setiap guru.
Selain itu, pembelajaran yang dilakukan sangat penting untuk memerhatikan perkembangan zaman. Pendidikan yang diselenggarakan mesti adaptif terhadap perubahan untuk mempersiapkan anak yang mampu menjawab tantangan zaman. Kodrat zaman memang menuntut kita untuk melakukan dua hal besar sekaligus; menciptakan pembelajaran yang relevan dengan perubahan yang terjadi dan memfilter anak dari pengaruh buruk yang diciptakan oleh setiap perubahan zaman.

Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari modul 1.1?
Menganggap anak sebagai kertas kosong yang harus ditulisi oleh guru
Hal ini yang pernah saya pahami. Pandangan ini sangat bertolak belakang dengan convergentie-theorie yang disinggung oleh Ki Hadjar Dewantara dalam tulisannya. 
Pembelajaran teacher oriented
Sering kali, pembelajaran yang saya laksanakan berpusat kepada guru sehingga murid tidak memiliki banyak ruang dalam berekspresi.
Perhatian khusus kepada murid yang pintar 
Saya selalu merasa senang kepada murid yang memiliki pencapaian akademik yang baik dan luput pada berbagai aspek lain yang dimiliki oleh murid.
Penggunaan bahan ajar tidak bervariasi
Saya lebih banyak menggunakan bahan ajar yang menurut saya baik tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan setiap murid.
Luput mengintegrasikan nilai sosial kultural ke dalam pembelajaran
Hal ini sering kali membuat pembelajaran yang saya laksanakan tidak kontekstual dengan kondisi alam, sosial, dan budaya murid.

Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini? 
Berpedoman kepada convergentie-theorie 
Convergentie-theorie sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Murid dengan kodratnya masing-masing bukanlah kertas kosong melainkan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh, tetapi semua tulisan-tulisan itu suram. Tugas saya sebagai guru adalah menuntun murid mempertebal tulisan suram yang bersifat baik. 
Pembelajaran student oriented
Proses pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik. Guru harus hadir sebagai fasilitator. 
Perhatian kepada seluruh murid
Bukan hanya kepada murid yang cakap dalam bidang akademik, tetapi guru harus memberi perhatian kepada seluruh murid. Anak itu beragam dan memiliki keunikannya masing-masing. Jika anak tidak unggul dalam aspek kognitif, ia pasti memiliki kemampuan pada aspek lain. Guru, seperti pandangan Ki Hadjar Dewantara, mesti menuntun anak menemukenali kemampauannya sesuai dengan kodratnya.
Menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan murid
Bahan ajar yang baik bukanlah yang megah dan mahal, tetapi yang dibutuhkan murid dalam memahami pembelajaran dan mampu menstimulasi pemikiran murid.
Mengintegrasikan nilai-nilai sosial-kultural ke dalam proses pembelajaran
Nusantara kaya dengan warisan kebudayaannya. Seiring perkembangan zaman, tradisi peninggalan nenek moyang lambat laut kehilangan eksistensinya. Sistem pendidikan yang baik dan sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai sosial-kultural ke dalam proses pembelajaran. Selain menguatkan karakter murid, hal ini juga bertujuan agar murid dapat mengenali khazanah kebudayaan nusantara dan turut melestariakannya.

Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?
Mengimplementasikan model pembelajaran yang berpusat kepada murid
Terdapat banyak referensi tentang model pembelajaran inovatif yang berpusat kepada murid. Model-model tersebut menempatkan peran guru sebagai fasilitator dan murid sebagai subjek. Murid dituntun untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya secara menyenangkan. Bahan ajar yang digunakan pun beragam untuk mengakomodir kebutuhan belajar murid. Selain itu, agar lebih interaktif, saya akan memanfaatkan teknologi melalui aplikasi yang edukatif. Hal ini tentu sejalan dengan mendidik sesuai kodrat zaman.
Menjalin komunikasi yang efektif dengan murid
Masyarakat Indonesia dikenal dengan keramahannya. Nilai ini dapat diinternalisasikan ke dalam diri setiap guru, terkhusus diri saya, untuk membantu murid menemukenali potensi dalam dirinya. Guru tidak h
arus killer dan tertutup untuk menampakkan wibawanya sebab hal tersebut akan menghambat perkembangan murid. 
Mengintegrasikan nilai-nilai sosial-kultural dalam setiap pembelajaran
Pembelajaran ini dapat dimaknai sebagai pembelajaran kontekstual. Selain agar murid lebih mudah memahami materi, juga dapat membentuk karakter murid sesuai dengan nilai-nilai luhur masyarakat setempat.
Menjadi contoh bagi murid melalui aksi nyata
Dalam proses menuntun murid untuk menebalkan karakter dan budi pekertinya, guru tidak sekadar memerintah ini-itu, tetapi memberi contoh agar dapat ditiru dan digugu oleh murid. Hal ini juga sebagai aktualisasi semboyan Ki Hadjar Dewantara, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani."

Mamuju Tengah, Maret 2024

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1"

Post a Comment