Debu-Debu Topoyo dan Puisi Lainnya



Debu-Debu Topoyo

siang menyaksikan angin membawa debu-debu
itu mengabarkan kesedihan.
kecemasan mulai menyentuh mimbar
yang agung.

Buah menolak dikupas. angka-angka tidak
percaya diri menghitung dirinya sendiri
sepanjang tahun.

Jalan adalah pangkal keraguan dan keyakinan
menganulir tata tertib di tengah rasa sakit
yang dipelihara negara ini.

Sementara itu, di selatan, seseorang ingin
pulang tanpa memerhatikan palang
yang ingin menyelamatkannya.

 

Dengan Kata Lain, Aku Tak Berhasil Menyentuhmu


Di puisi ini, aku ingin menyentuhmu lagi.
Kubiarkan jendela terbuka dan kenangan
memasuki jantungku.

Setiap kutulis namamu, huruf-huruf
selalu berhasil menjatuhkan dirinya
kembali. Aku gagal menahanmu sekali
lagi.

Aku ingin mendengar jantungmu berdetak,
tapi tubuhku telanjur retak. Kau tak mampu
kutebak.

Di puisi ini, aku ingin menyentuhmu lagi.
Kubiarkan jendela terbuka dan kesedihan
menetap di tubuhku.

Dua puisi ini, bersama lima puisi lainnya, pertama kali tayang di magrib id pada 20 Oktober 2021. Untuk membaca puisi lainnya, silakan kunjungi tautan ini.

Mari bersenang-senang dengan puisi!





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Debu-Debu Topoyo dan Puisi Lainnya"

Post a Comment